Prosesi Penarikan Mustika Eyang Sapu Angin

Pengalaman Spiritual » Prosesi Penarikan Mustika Eyang Sapu Angin

Saat itu, suasana malam terasa sangat hening, seakan tiada sedikit suarapun yang terdengar. Bahkan suara jangkrik sekalipun, tidak seperti pada malam-malam biasanya. Kang Masrukahan melakukan sholat malam sebagaimana aktivitas rutin beliau di tengah malam. Selesai sholat, beliau tidak lupa untuk berdzikir, memohon ampun dan bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah kepada beliau.

 

Ditengah asyiknya berdzikir, terdengar bisikan ghaib yang sangat jelas di telinga kanan beliau. Bisikan tersebut terus saja muncul hingga berulang-ulang kali hingga memecahkan konsentrasi beliau. Bisikan itu meminta beliau untuk berpuasa mutih selama tujuh hari secara berturut-turut. Dan dihari yang terakhir, beliau harus melakukan “bancaan” atau tasyakuran dengan menyembelih ayam cemani (ayam hitam mulus) dan ayam putih mulus. Kemudian, berziarah ke salah satu gunung keramat di Pulau Jawa yang dipercaya sebagai tempat moksanya Raja Majapahit terakhir, Gunung Lawu.

 

Sebagai seorang spiritualis Jawa yang memiliki penglihatan batin yang tinggi, Kang Masrukhan meyakini bisikan ghaib tersebut bukanlah bisikan ghaib biasa. Namun, sebuah petunjuk dari yang maha penguasa jagad raya kepada beliau.

Lalu, di pagi harinya, beliau memutuskan untuk berangkat dari kediamannya di Jepara menuju ke Gunung Lawu yang terletak diperbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dengan ditemani seorang supir pribadi, beliau berangkat mulai pukul 07.30 WIB.

 

Dalam perjalananya tersebut, seakan ada makhluk astral yang selalu membuntuti mobil pribadi beliau. Namun, beliau membiarkannya karena beliau menganggap makhluk astral tersebut tidak memiliki niat yang buruk, ia hanya ingin mengawal perjalanan beliau menuju Gunung Lawu.

 

 

Sampai di Gunung Lawu

 

 

Setelah tak terasa tiga jam perjalanan beliau lalui, akhirnya sampai juga beliau di kaki Gunung Lawu. Sesampai disana, beliau memutuskan untuk beristirahat sejenak di warung yang berjejer dipingir jalan sambil mengisi perut yang kosong dengan nasi pecel dan secangkir kopi hitam panas sebagai sedikit peredam rasa dingin yang menusuk sumsum tulang-tulang di seluruh persendian beliau.

 

Setelah beliau merasa cukup beristirahat dan perut juga merasa kenyang, beliau memutuskan untuk mandi di Sendang lanang untuk menyucikan diri. Sendang tersebut memang biasa digunakan para peziarah ataupun para pecinta alam untuk menyucikan diri sebelum naik ke puncak Gunung Lawu untuk sowan kepada Prabu Brawijaya yang lebih dikenal dengan Sunan Lawu.

 

Selesai menyucikan diri, beliau langsung menuju puncak lawu. Beliau memilih naik melalui jalur cemoro kandang karena beliau yakin disinilah sebenarnya pintu gerbang kerajaan ghaib di Gunung Lawu. Dalam perjalanan menuju puncak, beliau mendapati berbagai macam makhluk astral baik yang bergolongan putih maupun hitam yang “sliweran” atau saling berjalan kesana kemari layaknya manusia pada umumnya. Oleh karenanya, pantas bila ada yang menyebut Gunung Lawu sebagai gudangnya para lelembut atau makhluk ghaib.

 

Selain itu, Kang Masrukhan juga mendapati penampakan sebuah pasar yang sangat ramai akan penjual dan pembeli. Namun, yang membedakan pasar ini dengan pasar yang lain adalah semua penjual dan pembelinya merupakan para lelembut atau makhluk ghaib. Oleh karenanya pasar ini disebut dengan pasar setan. Tapi, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk melihatnya. Karena hanya orang-orang tertentu atau yang memiliki kemampuan lebih yang bisa melihat pasar setan ini.

 

Kemudian, beliau melanjutkan perjalanannya ke Hargo dalem yang dipercaya sebagai tempat moksanya Sang Prabu Brawijaya. Sesampainya di hargo dalem, beliau duduk bersila sambil berdzikir kepada Alloh. Dalam khusuknya berdzikir, beliau ditemui oleh sosok Prabu Brawijaya atau yang lebih dikenal dengan Sunan Lawu.

 

Sunan Lawu meminta beliau untuk bertapa hingga muncul sebuah Mustika Eyang Sapu Angin. Kemudian, beliaupun melaksanakan perintah Kanjeng Sunan Lawu. Tepat pada malam ke tiga beliau bertapa, kabut menjadi semakin tebal, hawa dingin terasa menusuk seluruh persendian beliau. Tak lama kemudian, angin yang sangat kencang seakan berhembus ke arah beliau hingga memporak-porandakan semua yang ada di sekitar beliau. Namun, semuanya itu tak berarti apa-apa bagi beliau. Niat tulus dan pendirian yang kukuh seakan menafikan semua rintangan yang datang menerpa beliau.

 

Sejenak kemudian, beliau merasakan sebuah energi yang sangat kuat menghampiri beliau. Beliau meyakini energi tersebut berasal dari benda bertuah yang memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyat. Semakin lama energi tersebut semakin mendekat dan semakin kuat. Selanjutnya, beliaupun mencoba dengan sekuat tenaga untuk menarik benda bertuah tersebut.

 

Dengan usaha keras serta niat yang tulus, akhirnya beliaupun mampu menariknya ke alam manusia. Benda bertuah yang memiliki energi yang sangat dahsyat tersebut berwujud sebuah mustika yang cantik jelita yang dinamai dengan Mustika Eyang Sapu Angin. Karena didalamnya mustika tersebut bersemayam khodam yang berperawakan laki-laki tua berjubah putih dengan rambut dan jenggot yang sama putihnya.