Pengalaman Spiritual Mustika Kencana Ratu Buluh Perindu

Pengalaman Spiritual » Pengalaman Spiritual Mustika Kencana Ratu Buluh Perindu

 

Sudah pernahkah Anda mendengar cerita Legenda Hutan Jati Masin, sebuah kisah cinta antara seorang pemuda tampan bernama Raden Bagus Rinangku dan putri Sunan Muria yang bernama Raden Ayu Nawangsih? Dalam kisah ini kedua sejoli tersebut berakhir terbunuh dan diiring menuju tempat peristirahatan terakhir mereka oleh para penduduk yang melayat dalam isak tangis dan linangan air mata. Dalam kisah ini pula para pelayat tersebut berubah menjadi pohon jati, seperti sabda Sunan Muria setelah beliau melihat orang-orang itu menangis tanpa beranjak dari tempat mereka berdiri, seperti barisan pohon jati.

 

Di area Hutan Jati Masin inilah saya melakukan tirakat beberapa waktu lalu. Duduk bersila diantara rimbunan pohon bergetah merah, menekuk lutut dalam doa di malam yang dingin dan serba hening. Niat awal saya hanya satu, yakni mencari sarana bagi mereka yang mendambakan cinta dan kasih sayang. Berkah bagi anak-anak Adam dan Hawa yang berharap bisa menyanding satu sama lain di pelaminan dan berkah bagi segala aspek kehidupan pada umumnya.

 

Sudah menjadi kepercayaan  masyarakat Kudus bahwa apabila kita menyayat batang pohon jati di Hutan Masin, pohon tersebut akan berdarah. Sebab pada awalnya pohon-pohon tersebut adalah manusia yang berubah wujud setelah disabda oleh Sunan Muria. Dengan latar belakang cerita ini saya tidak lagi heran ketika mendengar suara tangis yang terus mengalun setiap kali angin berhembus selama saya mengolah batin di area tersebut. Merintih, meratap, menangisi sepasang kekasih yang tewas di ujung panah berabad-abad silam. Suara tangis yang menyayat hati terdengar makin trenyuh di telinga begitu saya merasakan tetes demi tetes air berjatuhan dari batang pohon yang menjulang tinggi di dekat tempat saya bertirakat.

 

Mula-mula satu tetes air mendarat di pundak kanan saya, lalu di pundak kiri, lutut kanan dan puncak kepala. Tak ayal jika saya sempat mengira hujan akan turun. Gerimis barangkali. Namun sampai beberapa saat hujan tak kunjung mengguyur. Tergerak oleh nalar semata saya menengadahkan telapak tangan kanan, menanti tetesan air yang berikutnya. Benarkah ini gerimis? Rupanya tidak. Sebab tetesan air yang jatuh di telapak tangan kanan saya sedetik kemudian berubah menjadi bulatan cantik mustika berwarna bening. Sebening cinta suci yang pernah diikrarkan Raden Bagus Rinangku dan Raden Ayu Nawangsih, sebening air mata yang dulu ditumpahkan para penduduk pada hari kematian mereka.

 

Subhanallah….betapa luar biasanya energi yang terpancar dari mustika cantik di tangan saya tersebut. Mustika elok yang kemudian saya sebut sebagai Mustika Kencana Ratu Buluh Perindu. Penuh kewibawaan, keberuntungan dan tentunya daya pengasihan yang tak tertandingi. Dengan demikian sudah menjadi kewajiban saya untuk memindahtangankan benda bertuah ini kepada siapapun yang membutuhkan dan menginginkan kehidupan sentosa.