Pengalaman Spiritual Mustika Keong Semar Buntet

Pengalaman Spiritual » Pengalaman Spiritual Mustika Keong Semar Buntet

Sekitar awal tahun ini saya menerima undangan pernikahan dari seorang teman lama. Maka pada tanggal yang tercetak dalam undangan itu sayapun berangkat menuju Kedung, Jepara, Jawa Tengah untuk menghadiri acara resepsi yang digelar di kediaman mempelai putri.

 

Berkunjung ke Kecamatan Kedung rasanya kurang lengkap jika tidak sekalian mengunjungi Makam Maulana Kedungmalang yang merupakan seorang penyebar agama Islam di pesisir Jepara. Salah satu keluarga saya yang ikut mendampingi ke acara resepsi hari itu kebetulan tidak keberatan saya tinggal bertirakat, sehingga dia pulang dengan diantar supir sementara saya ditinggalkan semalam suntuk untuk mengolah batin di area makam keramat yang masih memiliki sejarah pertalian dengan keraton Cirebon tersebut.

 

Tanggal hajatan teman lama saya yang kebetulan bertepatan dengan hari Kamis malam Jum’at Kliwon membuat area Makam Maulana Kedungmalang dipenuhi peziarah. Saya memasuki area petilasan bersama beberapa orang peziarah lain, sebagian diantara mereka datang dalam rombongan. Satu persatu peziarah datang, satu persatu pula peziarah pergi. Ketika adzan isya’ berkumandang, tinggal beberapa orang saja yang masih bertahan di tempat tersebut. Sekitar dua atau tiga jam kemudian tinggal saya seorang saja yang tetap bertekur dalam dzikir di sana. Mengetahui niat saya untuk bertirakat hingga subuh, juru kunci makam tersebut secara langsung mewanti-wanti agar saya tidak sombong dan sembrono meski apapun yang terjadi. Nasehat tersebut saya terima sepenuhnya, apalagi secara pribadi saya memang sudah pernah mendengar cerita tentang seorang peziarah sombong yang usaha batinnya berakhir dengan teriakan minta tolong di tengah malam.

 

Tak lebih dan tak kurang seperti apa yang diwantikan sang juru kunci, malam itu saya memang ‘kedatangan tamu.’ Seekor ular besar berwarna hitam pekat yang entah dari mana asalnya tiba-tiba muncul, melata dan menghampiri tempat saya mengolah batin. Selama beberapa saat ular tersebut mengelilingi badan saya, memutar-mutar seperti ingin melilit sekujur tubuh saya. Seperti yang diwantikan sang juru kunci pula saya tidak bertindak sembrono, tidak panik dan berusaha tetap tenang. Di saat yang sama saya juga tidak berusaha menantang ular gaib tersebut, sekalipun saya sendiri memiliki kemampuan supranatural yang sering dibilang lebih dari cukup.

 

Perlahan namun pasti, seiring dengan berjalannya malam dan mendekatnya fajar, gerakan sang ular berubah pelan. Dengan perlahan juga ular besar tersebut menyusut ukurannya. Menyusut, mengecil, menciut, lalu memendek dan memudar warnanya hingga berubah wujud menjadi sebuah fosil keong berwarna kecoklatan yang saya ambil dengan tangan kanan begitu malam menghilang sempurna. Tak beda jauh dengan mustika keong yang dikenal orang pada umumnya, benda bertuah yang saya pegang tersebut berwujud fosil keong yang isinya telah mengeras padat. Memancarkan kekuatan spiritual yang tinggi dan merupakan kediaman khodam pendamping yang memberikan perlindungan gaib bagi siapapun pemiliknya.

 

Alhamdulillah…sekali lagi saya mendapatkan berkah dalam wujud benda bertuah yang Insya Allah dapat membawa manfaat besar bagi kehidupan orang yang menjadi tuannya.